IKRARnews.ID, Pohuwato – Pernyataan Kapolda Gorontalo pasca kunjungannya ke lokasi banjir di Desa Hulawa memicu kecaman keras dari warga setempat. Alih-alih membawa kesejukan bagi para korban terdampak, kehadiran pimpinan tertinggi kepolisian di daerah tersebut justru dinilai melukai hati rakyat karena dianggap terlalu condong membela kepentingan korporasi.
Warga menilai kunjungan tersebut menyisakan kejanggalan besar. Kapolda dianggap hanya mendengarkan narasi sepihak dari perusahaan tanpa melihat fakta riil di lapangan yang selama ini menghimpit kehidupan masyarakat.
Masyarakat mempertanyakan alasan Kapolda lebih memilih mendatangi pihak perusahaan dan melihat peta administratif yang dianggap “tidak masuk akal”, ketimbang turun langsung berdialog dengan warga yang rumahnya terendam lumpur.
“Ini sangat lucu. Seorang Kapolda yang katanya bersama rakyat, tapi malah datang ke perusahaan. Seharusnya beliau didampingi pemerintah setempat menemui kami, korban dampak, bukan justru menjadi pembela perusahaan seolah-olah mereka tidak merusak lingkungan,” ujar salah satu perwakilan warga dengan nada kecewa.
Kritik pedas juga mengalir terkait lokasi yang dipantau Kapolda. Warga menyebut Kapolda hanya melihat bagian Botudulanga, sementara fakta di lapangan menunjukkan dampak banjir terparah berada di wilayah Alomatu.
Ketidaksesuaian titik tinjauan ini membuat pernyataan Kapolda dianggap tidak valid dan jauh dari realita. Fakta Sedimentasi yang Terabaikan
Warga membeberkan bahwa kerusakan lingkungan ini bukanlah kejadian alamiah semata, melainkan dampak dari pekerjaan infrastruktur selama tiga tahun terakhir.
Sedimentasi masif dari wilayah Baginite, Para Pani, Borose, dan Ilota Kanan telah masuk ke areal Daerah Aliran Sungai (DAS) Borose, Sungai Kaya, Ilota, dan Alomatu.
“Sedimentasinya sangat besar. Itu yang seharusnya dipahami Kapolda. Jangan hanya mendengar ‘mulut manis’ perusahaan. Kami mungkin tidak berpendidikan tinggi, tapi kami tidak bodoh dalam berpikir,” tegas warga.
Selain masalah sedimentasi, warga juga menyoroti bahwa banjir di area kantor Desa Hulawa diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur listrik (toer) yang diduga mengganggu drainase alami wilayah tersebut.
Masyarakat Hulawa kini menuntut adanya investigasi independen yang jujur dan tidak memihak. Mereka meminta Kapolda Gorontalo untuk kembali ke lapangan dengan hati nurani, melihat fakta tanah dan air yang rusak, bukan sekadar melihat presentasi di atas kertas milik perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat tetap pada pendiriannya: mereka butuh solusi dan pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan yang telah merenggut kenyamanan hidup mereka, bukan pernyataan yang justru menyalahkan alam atau membela pihak yang diduga kuat sebagai penyebab bencana.
Red. ID















