Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
banner 325x300
Berita

Semarak Pawai Ogoh-Ogoh di Bongo IV, Simbol Netralisasi Energi Negatif Jelang Nyepi

65
×

Semarak Pawai Ogoh-Ogoh di Bongo IV, Simbol Netralisasi Energi Negatif Jelang Nyepi

Sebarkan artikel ini

IKRARnews.ID, Boalemo – Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai perayaan pawai ogoh-ogoh di Desa Bongo IV, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, Rabu (18/3/2026). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu, sekaligus mencerminkan harmoni antarumat beragama di daerah tersebut.

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Fraksi NasDem DPRD Boalemo Arman Naway, S.H, Kepala Desa Bongo IV Sirlan Hipi, S.TP, jajaran pemerintah desa, serta masyarakat dari berbagai latar belakang, baik umat Hindu maupun Muslim yang bersama-sama menyaksikan dan mendukung jalannya kegiatan.

Ketua Parisada Kecamatan sekaligus Ketua PHDI Desa Bongo IV, I Wayan Sri Nata, menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan tradisi umat Hindu yang telah ada sejak tahun 1960-an. Tradisi ini memiliki makna spiritual sebagai simbolisasi kekuatan negatif atau “bhuta kala” yang ada di alam semesta.

“Sebelum pawai, kami melaksanakan ritual penetralan alam semesta dengan tujuan menciptakan keharmonisan. Ogoh-ogoh ini diarak keliling desa sebagai simbol pembersihan dari energi negatif, dan nantinya akan dibakar sebagai bagian dari prosesi penyucian,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, tiga ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa dengan penuh antusiasme masyarakat. Proses pembakaran ogoh-ogoh menjadi penutup rangkaian, yang melambangkan penghancuran sifat-sifat buruk dan energi negatif.

Lebih lanjut, I Wayan Sri Nata menyampaikan bahwa setelah pawai, umat Hindu akan melanjutkan rangkaian Hari Raya Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yakni empat pantangan utama sebagai bentuk introspeksi diri dan penyucian batin.

Ia juga mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif selama pelaksanaan Nyepi. “Mari kita saling menghormati dan menjaga keharmonisan. Sesuai tema, kita semua adalah satu keluarga dalam satu bumi,” ujarnya.

Pembuatan ogoh-ogoh sendiri membutuhkan waktu sekitar satu bulan, dengan berbagai tantangan, terutama keterbatasan dana dan waktu. Meski demikian, semangat masyarakat tetap tinggi demi melestarikan tradisi budaya yang sarat makna tersebut.

Ke depan, diharapkan tradisi ini terus dilestarikan dan dikembangkan, dengan melibatkan lebih banyak generasi muda melalui prada dan pasraman, sehingga nilai-nilai budaya dan spiritual tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

 

RED RIAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300
banner 325x300