IKRARnews.ID, POHUWATO — Aksi demonstrasi yang digelar massa penambang lokal pada Kamis, (22/1/2026) di Kabupaten Pohuwato berlangsung tegang dan mendapat pengawalan ketat aparat, mulai dari kepolisian, Brimob, Pol Air, hingga unsur TNI. Aksi tersebut menyasar sejumlah titik penting, yakni Kantor DPRD Pohuwato, Pemda Pohuwato, hingga area PANI Gold, dengan membawa sejumlah tuntutan yang disebut berkaitan dengan keberlangsungan aktivitas penambang lokal.

Namun, dalam pelaksanaannya, aksi demo ini dinilai tidak membuahkan hasil signifikan, terutama saat massa mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Pohuwato.
Berdasarkan laporan di lapangan, 25 anggota DPRD tidak berada di kantor sejak pukul 09.30 WITA hingga aksi selesai, sehingga massa tidak memperoleh tanggapan resmi maupun jawaban atas tuntutan yang disuarakan.

Selanjutnya, massa bergerak menuju Pemerintah Daerah (Pemda) Pohuwato. Di lokasi ini, massa diterima langsung oleh Bupati Pohuwato. Dalam keterangannya, Bupati menyampaikan bahwa pihaknya akan mengupayakan tuntutan massa terkait “on” atau diaktifkannya kembali aktivitas penambang lokal.
Namun demikian, Bupati juga menegaskan bahwa penghentian aktivitas PANI Gold Mine bukan merupakan kewenangan dirinya, sehingga tuntutan tersebut tidak bisa diputuskan langsung oleh pemerintah daerah.

Sementara itu, dari pihak PT. PETS, melalui perwakilan bernama Joko, disebutkan bahwa persoalan terkait pemberhentian aktivitas PANI Gold diserahkan kepada Bupati. Di lapangan, situasi sempat memanas ketika terjadi pemasangan tenda, yang memicu perlawanan dari pihak hukum serta perusahaan.
Pengamanan aksi ini terbilang besar meski jumlah massa tergolong minim. Aparat gabungan hadir lengkap dengan perlengkapan, termasuk gas air mata. Tercatat, kendaraan kepolisian yang dikerahkan mencapai 8 unit, terdiri dari 1 mobil box berisi perlengkapan pengendalian massa, 1 unit bus, 2 unit truk, dan 4 unit pick up, serta didukung sekitar 15 unit sepeda motor.
Pengamanan dipimpin langsung oleh Wakapolres, serta turut dihadiri Kabag Ops, Kasat Intel, dan sejumlah personel lainnya.
Ironisnya, jumlah peserta aksi terpantau sangat kecil. Dalam laporan disebutkan massa hanya berjumlah sekitar 5 orang, sementara orator berjumlah 6 orang. Dengan komposisi tersebut, aksi dinilai mudah dikendalikan hingga massa dapat dipukul mundur.
Aksi ini disebut belum berhenti sampai di situ. Massa berencana melanjutkan giat berikutnya ke Polda, Kantor DPRD Provinsi, hingga Kantor Gubernur, untuk mencari jawaban dan tindak lanjut atas tuntutan mereka.
RED. ***

















