IKRARnews.ID, Kota Gorontalo -Masyarakat kini harus lebih jeli dalam memilih tempat berbelanja guna menyiasati anggaran dapur, mengingat adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antara pasar modern dan pasar tradisional khususnya di Wilayah Kota Gorontalo
Senin, (16/02/2026)
Berdasarkan Pantauan awak media Ikrarnews.Id Biro Kota Gorontalo saat menjelang bulan suci Ramadan, dinamika harga bahan pokok di Kota Gorontalo mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan.
Norma Datau (35), seorang ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja di Indogrosir Gorontalo, mengungkapkan kepada awak media bahwa setiap tempat memiliki keunggulannya masing-masing. Waduh !
Menurutnya, untuk komoditas minyak goreng, ayam, dan telur, harga di supermarket cenderung lebih miring dibandingkan tempat lain. (16/02)
“Kalau di supermarket, daging tertentu seperti daging meltique juga lebih tersedia, termasuk sayuran yang sulit dicari di pasar seperti brokoli atau kembang kol,” ujarnya.
Di ritel modern ini, harga telur ayam negeri dibanderol pada kisaran Rp65.000–Rp66.000 per baki, sementara ayam potong dijual mulai dari Rp40.900 untuk ukuran kecil hingga Rp54.900 untuk ukuran besar.
Untuk bumbu dapur atau “Barito” (bawang, rica, tomat), harga di supermarket dipatok per 100 gram, seperti cabai rawit Rp6.890 dan bawang merah Rp5.490.
Bawang putih:
• Pasar tradisional Rp60.000 per kilogram
Tomat:
• Pasar tradisional Rp12.000 per kilogram (naik dari Rp8.000)
Minyak kelapa:
• Pasar tradisional naik sekitar Rp1.000 per botol
Ikan segar umum:
• Pasar tradisional Rp25.000 → Rp35.000 per kilogram.
Meski demikian, ia mengeluhkan tren kenaikan harga yang mulai terasa.
Kondisi kenaikan harga ini dikonfirmasi oleh Gaston (39), salah satu pedagang di pasar tradisional.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga “Barito” terjadi cukup drastis mendekati Ramadan. Harga cabai (rica) yang semula Rp30.000 kini melesat menjadi Rp60.000 per kilogram.
Hal serupa terjadi pada bawang merah dan bawang putih yang juga menyentuh Rp60.000 per kilogram
Namun, daya tarik pasar tradisional tetap tidak tergantikan bagi sebagian warga. Wahyuni Bahsoan mengaku tetap setia berbelanja di pasar tradisional karena faktor harga yang lebih fleksibel dan adanya ruang untuk tawar-menawar adanya.
Red/Zulhas

















