IKRARnews.ID, Pohuwato – Dari kunjungan itulah keluar pernyataan yang kemudian menjelma jadi senjata pemusnah logika publik.
Banjir Pohuwato bukan akibat aktivitas perusahaan dan bukan land clearing, bukan blasting, melainkan akibat aktivitas PETI.
Pernyataan ini bukan netral. bukan sekadar analisis dan keputusan politik yang dibungkus setebal mungkin dengan namanya *”Otoritas”*
Sejak kalimat itu dilontarkan, garis perang ditarik. Bukan antara fakta dan hoaks, melainkan antara narasi resmi yang ingin menang cepat melawan kenyataan ekologis yang terlalu keras untuk dibantah.
Kita tidak sedang membela PETI. Tapi yang dipertanyakan saat ini adalah mengapa PETI selalu diposisikan sebagai pelaku tunggal, sementara tambang skala raksasa diperlakukan bak anak emas Institusi ?
Apakah kita sedang dipaksa percaya bahwa penggundulan hutan dalam skala industri, pengupasan tanah besar-besaran,
peledakan batuan yang mengubah struktur geologi, dan pengalihan aliran air, sama sekali tidak berkontribusi pada bencana banjir?
Jika Institusi itu menjawab *”IYA”*, maka ini bukan lagi debat lingkungan. Ini penghinaan terhadap kecerdasan kita semua sebagai Warga Negara.
Red. ID















