Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
banner 325x300
Berita

Pantauan Hilal 1 Ramadhan 1447 H Provinsi Gorontalo Berlokasi Di Botubarani, Ini Penjelasannya!!!

98
×

Pantauan Hilal 1 Ramadhan 1447 H Provinsi Gorontalo Berlokasi Di Botubarani, Ini Penjelasannya!!!

Sebarkan artikel ini

IKRARnews.ID, Kota Gorontalo – Situasi tersebut bukan sekadar persoalan teknis penanggalan, tetapi juga menyangkut kesiapan sosial umat dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Selasa, (17/02/2026)

Penetapan awal Ramadan sering kali menjadi perhatian luas karena berkaitan langsung dengan aktivitas keagamaan, sosial, hingga ekonomi masyarakat.

Masyarakat Indonesia berpeluang kembali menghadapi perbedaan waktu memulai ibadah puasa Ramadan tahun ini.

Pantauan awak media Ikrarnews.Id di Gorontalo ini ketika keputusan tidak serentak, umat biasanya menyesuaikan pelaksanaan ibadah sesuai pedoman organisasi atau keputusan pemerintah yang diyakini. Penetapan awal Ramadan sering kali menjadi perhatian luas karena berkaitan langsung dengan aktivitas keagamaan, sosial, hingga ekonomi masyarakat.

Ketika keputusan tidak serentak, umat biasanya menyesuaikan pelaksanaan ibadah sesuai pedoman organisasi atau keputusan pemerintah yang diyakini. Penetapan awal Ramadan sering kali menjadi perhatian luas karena berkaitan langsung dengan aktivitas keagamaan, sosial, hingga ekonomi masyarakat.

Ketika keputusan tidak serentak, umat biasanya menyesuaikan pelaksanaan ibadah sesuai pedoman organisasi atau keputusan pemerintah yang diyakini.Penetapan Lebih Dulu Muncul dari Organisasi Keagamaan.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah lebih dahulu menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan tersebut ditetapkan melalui pendekatan kalender global berbasis perhitungan astronomi.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia masih menunggu hasil pengamatan lapangan sebelum menetapkan awal puasa.

Keputusan resmi nantinya diumumkan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Perbedaan pendekatan inilah yang berpotensi melahirkan ketidaksamaan awal Ramadan tahun ini. Indikasi Perbedaan Terlihat dari Parameter Astronomi. Perhitungan astronomi menjadi dasar awal membaca kemungkinan tersebut.

Dalam sistem penanggalan Hijriah, posisi bulan sabit muda atau hilal menjadi indikator masuknya bulan baru.

Negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam MABIMS menggunakan standar visibilitas hilal minimal tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Saat matahari terbenam, posisi bulan diperkirakan masih berada di bawah garis cakrawala di seluruh wilayah Indonesia. Tingginya tercatat berada pada rentang minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat.

Selain itu, umur bulan yang masih sangat muda serta jarak sudut bulan terhadap matahari yang kecil membuat peluang pengamatan hilal secara teoritis hampir tidak memungkinkan.

Situasi astronomi diprediksi berubah pada 18 Februari 2026. Pada hari tersebut, posisi hilal diperkirakan sudah cukup tinggi di atas ufuk dengan parameter yang melampaui batas standar visibilitas.

Secara perhitungan, kondisi ini membuka peluang kuat bahwa awal Ramadan secara kriteria regional dapat dimulai pada 19 Februari 2026. Namun, kepastian tetap bergantung pada hasil verifikasi pengamatan langsung. Pengamatan Lapangan Jadi Penentu Akhir nantinya.

 

Red Zulhas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300
banner 325x300