IKRARnews.ID, Gorontalo – Baliho berukuran sekitar 2×1 meter tersebut dipasang di pinggir jalan dengan tulisan mencolok berwarna merah. Isinya terbilang sangat keras. Minggu, (08/03/2026)
Masyarakat memasang baliho bernada ancaman bagi pembuang sampah di kawasan Jembatan Jodoh, Desa Tinelo, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Pemasangan baliho bernada ancaman ini bukan tanpa alasan. Tepat di balik baliho tersebut, terlihat tumpukan sampah yang menggunung dan mulai membusuk. (08/03)
Pantauan Ikrarnews.Id Kota Gorontalo menunjukkan sampah menumpuk memanjang di bahu jalan. Jenisnya beragam, mulai dari sampah plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga seperti popok bekas yang menimbulkan bau menyengat.
Kepala Desa Tinelo, Melys H Ali, mengakui bahwa baliho tersebut dipasang karena masalah pembuangan sampah liar di lokasi itu sudah berlangsung lama dan sulit dikendalikan. Ia menyebut kebiasaan buruk ini sudah terjadi bertahun-tahun dan terus berulang hingga kini.
Melys mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa saja oknum yang membuang sampah di lokasi tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa narasi keras dalam baliho itu bukanlah murni keinginan pemerintah desa, melainkan usulan masyarakat yang sudah lama resah.
Menurutnya, pemerintah desa sebelumnya telah berulang kali memberikan teguran dengan cara persuasif dan memasang peringatan biasa, namun hasilnya nihil.
Sebenarnya kami sudah beberapa kali melakukan hal yang sama (menegur), tetapi dengan narasi yang biasa saja tetap tidak diindahkan,” ungkapnya.
Melys menyadari bahwa diksi dalam baliho tersebut cukup ekstrem. Namun, ia menilai kondisi tumpukan sampah di Jembatan Jodoh sudah sampai pada tahap tidak bisa ditoleransi.
Kalaupun tulisannya dinilai agak keras, itu karena memang kondisi sampah di Jembatan Jodoh sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” tegasnya.
Terkait pengelolaan sampah, Melys menjelaskan bahwa Desa Tinelo sebenarnya sudah bekerja sama dengan pihak ketiga. Warga yang ingin sampahnya diangkut dikenakan iuran sebesar Rp35 ribu per rumah tangga.
Namun, pihak pengangkut sampah keberatan membersihkan tumpukan di Jembatan Jodoh karena asal-usul sampah tersebut tidak jelas.
Melys menduga sampah-sampah itu bukan berasal dari warga Desa Tinelo, meski hal tersebut belum bisa dipastikan secara hukum
“Saya berencana mengubah lokasi itu menjadi tempat nongkrong (ruang publik). Saat ini saya sedang menyusun proposalnya,” kata Melys.
Rencananya, area tersebut akan ditimbun dan ditata kembali sehingga tidak ada lagi ruang terbuka yang bisa disalahgunakan sebagai tempat pembuangan sampah.
Sebagai solusi permanen, pemerintah desa berencana menata ulang kawasan tersebut agar tidak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Tutupnya.
Red/Zulhas

















