Scroll untuk baca artikel
banner 325x300
Example floating
Example floating
banner 325x300
Berita

Zepriyanto Muda Mahasiswa FIKOM Ichsan Boalemo Soroti RSUD Iwan Bokings: Klarifikasi Bukan Jawaban atas Nyawa yang Hilang

110
×

Zepriyanto Muda Mahasiswa FIKOM Ichsan Boalemo Soroti RSUD Iwan Bokings: Klarifikasi Bukan Jawaban atas Nyawa yang Hilang

Sebarkan artikel ini

IKRARnews.ID, Boalemo – Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Institut Teknologi dan Bisnis Ichsan Boalemo Zepriyanto Muda, C. ILJ melontarkan kritik keras terhadap klarifikasi yang disampaikan oleh RSUD Dr. Ir. Iwan Bokings terkait meninggalnya pasien berinisial AG (22).

 

Menurutnya, pernyataan pihak rumah sakit justru terkesan defensif dan belum menjawab substansi persoalan yang dirasakan keluarga korban.

 

“Ketika sebuah nyawa melayang, publik tidak butuh sekadar klarifikasi formal yang terkesan normatif. Yang dibutuhkan adalah transparansi total dan tanggung jawab moral. Jangan berlindung di balik istilah ‘penanganan sudah optimal’ jika fakta di lapangan masih menyisakan tanda tanya besar,” tegasnya.

 

Ia menilai, pernyataan bahwa dokter “standby” tidak serta-merta menjawab tudingan keluarga tentang lambannya respons dalam kondisi kritis. Baginya, kehadiran dokter bukan hanya soal ada atau tidak, tetapi seberapa cepat dan sigap penanganan diberikan saat detik-detik genting.

 

“Standby itu bukan sekadar ada di tempat. Standby itu berarti siap bertindak cepat tanpa celah waktu yang bisa merenggut nyawa pasien. Kalau masih ada keluhan soal keterlambatan, maka ada yang harus dievaluasi, bukan dibantah mentah-mentah,”lanjutnya.

 

Terkait proses rujukan ke RS Aloei Saboe, ia juga mempertanyakan sistem yang dinilai terlalu birokratis di tengah kondisi darurat.

 

“Kalau alasan klasiknya adalah prosedur dan koordinasi, lalu di mana letak urgensi keselamatan pasien? Sistem kesehatan tidak boleh kalah cepat dari kondisi kritis pasien. Jika prosedur justru memperlambat, maka prosedurnya yang harus diperbaiki, bukan dijadikan tameng,” ujarnya dengan nada tegas.

 

Ia juga menyoroti pernyataan dugaan gagal jantung akut tanpa adanya otopsi sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan spekulasi baru di masyarakat, khususnya masyarakat Paguyaman.

 

“Kalau memang butuh otopsi untuk memastikan penyebab kematian, maka jangan buru-buru menyimpulkan. Ini menyangkut kepercayaan publik. Jangan sampai masyarakat merasa kebenaran hanya setengah dibuka,” katanya.

 

Di akhir pernyataan Zepri, menegaskan bahwa masalah ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh, bukan sekadar klarifikasi sepihak, agar tidak terulang kembali.

 

“Rumah sakit adalah tempat harapan terakhir masyarakat. Ketika kepercayaan itu mulai retak, maka yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, tetapi keberanian untuk mengakui kekurangan dan berbenah secara nyata. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dijawab dengan pernyataan yang terasa aman, tapi tidak menyentuh inti persoalan.”pungkasnya.

 

Red ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 325x300
banner 325x300