IKRARnews.ID, Gorontalo Utara (OPINI) – Setiap hari, truk-truk kayu raksasa milik HTI lalu-lalang menyiksa jalanan kita. Debunya kita hirup, aspalnya hancur, dan nyawa warga jadi taruhannya karena muatan yang overload dan ugal-ugalan. Di tengah kenyataan pahit ini, tiba-tiba Iwan Koli, yang katanya Humas HTI Gorontalo, malah sibuk mengeluh di media soal “Jam Acara Molor” saat diundang dialog oleh Teman-teman HMI.
Ini bukan cuma lucu, tapi memalukan. Menggunakan alasan teknis kepanitiaan untuk lari dari tanggung jawab adalah watak asli pengecut. Untuk itu, kami perlu meluruskan beberapa hal agar publik tidak dikibuli oleh narasi cengeng korporasi ini:
Pertama, Katanya Humas, Kok Komunikasinya Macet?
Iwan Koli ini jabatannya Public Relations (Humas), tapi kelakuannya di lapangan sama sekali tidak mencerminkan orang komunikasi. Kalau memang ada pergeseran waktu, tugas dia adalah bertanya dan berkoordinasi dengan panitia. Bukan datang, melihat kiri-kanan dirasa sepi, lalu balik kanan dan ngambek ke media. Namanya Humas itu membangun jembatan komunikasi, bukan mencari-cari alasan murahan untuk kabur dari diskusi.
Kedua, HTI Bukan Tamu Kehormatan, Kalian Sedang Kami Gugat!
Iwan Koli harus sadar diri. Dia diundang bukan untuk disambut dengan karpet merah atau seremoni potong pita. Dia diundang karena perusahaan yang dia wakili adalah sumber masalah! Muatan kayu overload kalian itu mengancam nyawa rakyat. Karena posisi HTI sedang digugat, harusnya dia bertahan, proaktif mencari panitia, dan memastikan dialog ini tetap jalan. Lari dari forum membuktikan HTI memang tidak pernah peduli pada keselamatan warga yang tiap hari berpapasan dengan truk-truk maut mereka.
Ketiga, Jangan Memutarbalikkan Fakta Soal Lokasi
Jangan membangun kebohongan dengan menyebut lokasi kosong. Teman-teman panitia sudah bersusah payah menyiapkan sebuah gedung di Pemkab Gorontalo Utara. Baliho sudah dibentangkan, kursi sudah ditata. Itu adalah bukti nyata keseriusan panitia untuk mempertemukan rakyat dan korporasi di meja yang setara. Kalaupun ada keterlambatan teknis di lapangan, itu hal biasa. Jangan jadikan hal teknis sebagai tameng untuk lari dari gelanggang perdebatan. Sebagai humas harusnya lebih proaktif!
Keempat, Humasnya Amatiran, Pimpinan HTI Juga Sama Saja?
Melihat tingkah Iwan Koli yang tak punya inisiatif ini, kita jadi tidak heran lagi. Kalau humasnya saja gagap menghadapi dinamika kecil di lapangan dan memilih kabur, wajar saja kalau para pimpinan HTI juga tutup mata melihat truk-truk kayu mereka ugal-ugalan merusak jalan rakyat. Sama-sama tidak punya kepekaan dan lepas tanggung jawab.
Kalian bisa menyalahkan jam dinding yang terlambat, tapi kalian tidak bisa menyalahkan rakyat yang marah karena jalanannya diremuk oleh roda-roda modal kalian. Jangan alihkan isu! Bereskan muatan overload kayu-kayu kalian sekarang juga, sebelum jalanan sendiri yang akan mengadili.
Penulis : Sandy Syafrudin Nina
Masyarakat Gorontalo Utara Yang Merasa Terancam Karena Overload Muatan Kayu HTI
Red RM

















