IKRARnews.ID, OPINI – Idul adha bukan sekadar kisah tentang hewan yang disembelih, Ia juga cerita tentang daging yang sampai ke dapur orang miskin, tentang protein yang jarang tersaji, dan tentang niat baik yang diuji oleh kepekaan sosial.
Qurban sering dipahami sebagai ibadah tahunan yang ditandai dengan penyembelihan hewan, di banyak tempat hari raya Iduladha menghadirkan suasana yang hampir serupa : masjid ramai, panitia bekerja sejak pagi, hewan qurban disembelih, lalu daging dibagikan kepada warga. Namun, di balik peristiwa itu sebenarnya qurban menyimpan makna jauh lebih dalam. Ia merupakan peristiwa sosial yang berbicara tentang kepemilikan, pengorbanan, niat baik, dan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya.
Dalam Islam, qurban berangkat dari kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak atas harta yang ia genggam. Semua yang dimiliki adalah amanah, karena itu qurban menjadi latihan rohani untuk melepaskan sebagian dari yang dicintai bukan demi kehilangan, tetapi demi memberi makna pada kepemilikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa bukan daging dan darah hewan qurban yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan manusia yang melaksanakannya. Pesan ini penting karena menempatkan qurban bukan semata pada ukuran hewan, harga, atau banyaknya daging, melainkan pada kejernihan niat dan kualitas moral orang yang berqurban. Di titik ini qurban menjadi kritik halus terhadap ego manusia; harta yang biasanya dipertahankan sebagian dilepaskan, status yang sering dipamerkan seharusnya ditundukkan, serta keinginan untuk diakui semestinya dikalahkan oleh keikhlasan untuk memberi.
Itulah sebabnya qurban seharusnya menjadi jembatan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial yang mempertemukan iman dengan dapur keluarga miskin, doa dengan kebutuhan pangan, dan niat baik dengan tubuh-tubuh yang membutuhkan gizi. Di banyak keluarga, daging bukan menu harian. Bagi sebagian masyarakat, protein hewani masih menjadi kemewahan yang hanya sesekali hadir di meja makan ditengah-tengah harga pangan yang terus bergerak, pendapatan yang tidak selalu cukup, serta ketimpangan ekonomi yang membuat akses terhadap makanan bergizi tidak merata. Di sinilah qurban memiliki makna kesehatan sosial, dimana daging qurban bukan sekadar paket tahunan tetapi kesempatan bagi; keluarga miskin, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok rentan untuk memperoleh asupan protein hewani yang mungkin jarang mereka konsumsi.
Protein merupakan zat gizi penting bagi tubuh, ia terdapat pada otot, tulang, kulit, rambut, enzim, dan hemoglobin yang membawa oksigen dalam darah. Dengan kata lain, protein bukan sekadar soal rasa kenyang, tetapi bagian dari struktur dasar kehidupan manusia. Maka, ketika daging qurban sampai kepada keluarga yang jarang mengonsumsi protein hewani, disitulah ibadah ini ikut menyentuh persoalan kesehatan masyarakat. Qurban menjadi lebih dari simbol berbagi, ia menjadi gerakan kecil untuk memperluas akses pangan bergizi, menjadi energi sosial yang memperkuat daya tahan komunitas dan bekerja di ruang yang sering luput dari kebijakan formal : dapur rumah tangga, meja makan keluarga, dan rasa bermartabat sebagai sesama manusia. Qurban masuk pada celah itu, ia menghadirkan mekanisme sosial berbasis agama untuk mengalirkan sebagian sumber daya dari yang mampu kepada yang membutuhkan. Daging yang berpindah tangan bukan hanya bahan pangan, tetapi pesan bahwa kesejahteraan tidak boleh berhenti di rumah orang berpunya.
Namun, dampak sosial dan kesehatan qurban sangat bergantung pada keadilan distribusinya, bila daging qurban lebih banyak berputar di lingkungan yang sama atau diterima oleh mereka yang sebenarnya tidak terlalu membutuhkan, maka nilai sosialnya menyempit dan kembali menjadi seremonial. Sebaliknya, bila pembagian diarahkan kepada keluarga miskin, wilayah rentan pangan, anak kurang gizi, lansia terlantar, pekerja informal yang tertekan ekonomi, dan rumah tangga yang jarang mengakses pangan bergizi, maka qurban menjadi lebih tajam sebagai ibadah sosial.
“Di sinilah niat baik diuji. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah berqurban?” Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan manfaat qurban ini?””
Pertanyaan kedua itulah yang membuat qurban menjadi lebih sosial progresif, sebab ibadah yang matang tidak hanya menghitung jumlah hewan, tetapi juga membaca wajah-wajah yang membutuhkan. Bagi penerima, sebungkus daging bukan hanya urusan konsumsi, melainkan tanda bahwa mereka tidak dilupakan dan semakin menguatkan rasa memiliki, rasa dihargai, dan kepercayaan sosial. Gerakkan ini mengingatkan kita bahwa orang miskin tidak boleh hanya menjadi objek belas kasihan, tetapi harus diperlakukan sebagai sesama manusia yang berhak atas pangan baik, perhatian, dan rasa hormat.
Sains membantu kita membaca qurban lebih jernih, ilmu gizi menjelaskan mengapa protein penting, dan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa kelompok rentan sering menghadapi hambatan dalam mengakses pangan bermutu. Epidemiologi sosial mengingatkan bahwa ketimpangan pangan dapat berhubungan dengan ketimpangan kesehatan, maka qurban yang berbasis ilmu bukan hanya qurban yang sah secara ritual, tetapi juga tepat secara sosial. Ia tidak berhenti pada penyembelihan, tetapi berlanjut pada pertanyaan : ke mana daging itu pergi, siapa yang menerimanya, dan seberapa besar manfaatnya bagi mereka yang paling membutuhkan. Di sinilah qurban mempertemukan iman, ilmu, dan tanggung jawab sosial, dimana iman menjaga agar niat tidak tercemar kesombongan, ilmu membantu membaca dampak qurban terhadap gizi dan kesehatan masyarakat serta tanggung jawab sosial memastikan manfaat qurban tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Pada akhirnya, qurban bukan hanya tentang darah yang mengalir di tempat penyembelihan tetapi tentang dapur orang miskin yang kembali mengepul, tentang anak yang menikmati protein, tentang keluarga rentan yang merasa diperhatikan dan tentang ego yang dikendalikan serta harta yang diubah menjadi manfaat. Qurban mengajarkan bahwa kedekatan kepada Tuhan semestinya melahirkan kepedulian kepada manusia, pengorbanan tidak boleh berhenti sebagai simbol tetapi harus bergerak menjadi keadilan sosial, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat yang lebih bermartabat
Oleh: [Fidi Mustafa, SKM., M.Si]
Penasehat Educare Institute Pohuwato
Red ***













