IKRARnews.ID BOALEMO, GORONTALO — Di tengah derasnya perkembangan zaman, ketika anak-anak seusianya semakin akrab dengan gawai, permainan digital dan berbagai hiburan modern, seorang bocah berusia 15 tahun di Kabupaten Boalemo justru memilih jalan yang berbeda.
Ia adalah Anugerah Nasaru, atau akrab disapa Nugi. Siswa kelas IX MTs Negeri 1 Dulupi, warga Desa Tabongo, Kecamatan Dulupi, Kabupaten Boalemo, itu perlahan menjadikan lantunan dikili sebagai bagian penting dalam kehidupannya.
Bagi Nugi, dikili bukan sekadar lantunan zikir yang terdengar semalam suntuk saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, dikili menjadi ruang baginya untuk belajar agama sekaligus mengenal dan menjaga warisan budaya Gorontalo yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di usianya yang masih belia, Nugi bahkan sudah berani duduk di antara para pendzikir senior dan ikut melantunkan dikili. Sebuah keberanian yang tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kecintaan yang telah ia bangun sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Nugi merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, buah hati pasangan Sunandi Nasaru dan Friska Rahman, yang lahir pada 27 Oktober 2011.
Perkenalannya dengan dikili bermula ketika Nugi masih duduk di kelas IV SD. Saat itu, ia kerap mengikuti sang nenek dari pihak ibu menghadiri kegiatan dikili.
Dari kebiasaan sederhana tersebut, ketertarikannya mulai tumbuh. Nugi tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga berusaha merekam lantunan dikili yang berlangsung semalaman.
Rekaman itu kemudian dibawanya pulang dan diputar berulang-ulang. Dari situlah Nugi belajar mengenal lantunan, mengikuti irama, serta membiasakan dirinya mendengar dikili hingga perlahan-lahan mampu ikut melantunkannya, sembari diawasi dan diajari oleh sang nenek.
Kebiasaan tersebut terus berlanjut. Nugi juga kerap menemani neneknya menghadiri arisan dikili. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, ia semakin dekat dengan tradisi yang sebelumnya hanya ia kenal sebagai sebuah lantunan yang terdengar dari masjid saat peringatan Maulid Nabi.
Kecintaannya terhadap dikili ternyata juga memiliki hubungan erat dengan sejarah keluarganya.
Kakek Nugi, Opa Nunga Isa Rahman atau yang kerap disapa Paci Nuru, pada masanya dikenal sebagai seorang pendzikir sekaligus imam masjid di Kecamatan Tilamuta. Sosok sang kakek menjadi salah satu bagian dari perjalanan keluarga yang membuat Nugi semakin dekat dengan tradisi tersebut.
Tahun 2026 kemudian menjadi babak baru bagi Nugi. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memberanikan diri duduk dan ikut berdzikir bersama para pendzikir yang lebih senior.
Namun langkah Nugi ternyata tidak berhenti di satu masjid.
Dalam tahun pertamanya ikut melaksanakan dikili, Nugi tercatat sudah mendatangi sedikitnya 11 masjid. Sebagian berada di wilayah Kecamatan Dulupi, namun langkahnya kemudian membawa lantunan dikili yang dipelajarinya keluar dari wilayah tersebut.
Nugi telah mengikuti dikili di Masjid Pasar Sore Dulupi, Masjid SMP 1 Dulupi, Masjid Sambati, Masjid Helumo, Masjid Dusun II Kota Raja, Dusun IV Kota Raja, Desa Tenilo, Masjid Rahmat Indah Helumo, serta sejumlah lokasi lainnya.
Langkahnya bahkan sampai ke Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, termasuk di Masjid Desa Pentadu Timur. Ia juga telah mengikuti dikili di Masjid Batu Keramat, Kecamatan Paguyaman.
Yang membuat kisah Nugi semakin menarik, kecintaannya terhadap tradisi tersebut bahkan telah membawanya menyeberangi batas Kabupaten Boalemo. Ia sudah sampai ke Desa Helumo, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, untuk mengikuti lantunan dikili.
Bagi seorang anak yang masih berusia 15 tahun, perjalanan dari satu masjid ke masjid lainnya untuk mengikuti dikili tentu bukan sesuatu yang biasa. Ketika malam mulai larut dan sebagian anak seusianya mungkin telah beristirahat, Nugi justru memilih duduk bersama para pendzikir, melantunkan dzikir, dan ikut menjaga tradisi yang telah hidup puluhan bahkan ratusan tahun di tengah masyarakat Gorontalo.
Dari Dulupi, langkahnya bergerak ke Tilamuta dan Paguyaman, kemudian sampai ke Mootilango di Kabupaten Gorontalo. Jarak bukan menjadi alasan baginya untuk berhenti belajar.
Setiap masjid yang didatanginya seakan menjadi ruang belajar baru. Setiap lantunan yang didengarnya menjadi tambahan pengetahuan. Dan setiap kali ia duduk bersama para pendzikir senior, ada keberanian sekaligus harapan bahwa tradisi dikili masih memiliki tempat di hati generasi muda.
Nugi mengaku motivasi terbesarnya datang dari sang nenek. Ia ingin terus mengikuti jejak tersebut dan melestarikan budaya serta tradisi Gorontalo, khususnya setiap kali masyarakat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam tradisi masyarakat Gorontalo, dikili merupakan bagian penting dari peringatan Maulid Nabi. Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo menjelaskan bahwa peringatan Maulid di Gorontalo diwarnai dzikir dan lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang dapat berlangsung semalam suntuk, dari setelah salat Isya hingga menjelang Subuh dan kemudian ditutup dengan doa Walima pada pagi harinya.
Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa dikili merupakan tradisi lisan khas Gorontalo berupa zikir yang dilantunkan di masjid sepanjang malam. Lantunan tersebut antara lain berisi shalawat, pujian kepada Nabi Muhammad SAW, serta kisah tentang kelahiran dan kenabian beliau.
Karena itu, dikili tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman, keberadaan generasi muda seperti Nugi menjadi penting. Sebab sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena dikenang. Tradisi akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau mempelajarinya, melakukannya dan kemudian mewariskannya kembali.
Di balik keberanian Nugi, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
Sang ibu, Friska Rahman, mengaku akan terus mendukung kegiatan yang dilakukan putranya selama berada dalam hal-hal yang positif. Bahkan, setiap kali Nugi pergi mengikuti dikili, orang tuanya selalu berusaha mengantar. Begitu pula ketika kegiatan selesai, mereka datang menjemputnya.
“Kami sebagai orang tua tentu sangat mendukung apa yang dilakukan Nugi selama itu positif. Kami selalu berusaha mengantar dan menjemputnya setiap kali dia pergi dikili. Kami melihat ini bukan hanya sebagai kegiatan biasa, tetapi juga sebagai kesempatan bagi Nugi untuk belajar agama dan mengenal budaya daerahnya,” ungkap Friska saat dihubungi media pada Jum’at (11/9/2026).
Menurut Friska, apa yang dilakukan Nugi merupakan sesuatu yang patut dijaga dan diarahkan. Ia berharap kecintaan anaknya terhadap dikili tidak hanya menjadi kegemaran sesaat, tetapi dapat terus tumbuh seiring bertambahnya usia.
Ia juga berharap Nugi dapat menjadi salah satu generasi muda yang mampu mempertahankan tradisi tersebut di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Di usianya yang baru 15 tahun, Nugi mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa setiap lantunan yang ia ucapkan merupakan bagian dari sebuah warisan panjang masyarakat Gorontalo.
Namun, setiap kali ia duduk di antara para pendzikir senior, setiap kali rekaman dikili diputar kembali di rumah, dan setiap kali ia melangkah dari satu masjid ke masjid lainnya, sesungguhnya Nugi sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia sedang menjadi bagian dari mata rantai pelestarian tradisi.
Suara Nugi mungkin masih muda.
Tetapi dari suara muda itulah, dikili Gorontalo memiliki harapan untuk terus terdengar di masa depan.
Sebab selama masih ada generasi yang mau belajar dan melantunkannya, tradisi itu tidak akan sekadar menjadi cerita masa lalu.
Ia akan tetap hidup, dari masjid ke masjid, dari generasi ke generasi, dan dari lantunan seorang bocah yang memilih menjaga warisan tanah kelahirannya.
Red Sri













